GLS KELAS : VII-A

TAHUN PELAJARAN 2025/2026
RENDY INDRAWAN
Kelas : VII-A

RENDY INDRAWAN
Kelas : VII-A

Senin, 9 Februari 2026 | Dibaca : 30 kali
Judul Buku: edensor
Genre: Non_Fiksi
Penulis: Andrea hirata
Penerbit: Andrea Hirata
Tahun: 2013
Halaman: 1-12
GLS
Resume:
Laki-laki Zenit dan Nadir jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-sehat itu analogi eksperimen itu tak lain karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut dan waktu relatif tertanggung kecepatan gerbong ini pendapat Einstein maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja namun sejauh mana dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pembelajaran pada seseorang hasilnya akan berbeda relatif satu sama lain banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan Sepanjang Hidup pengalaman semacam itu bak mutiara dan mutiara dalam hidupku adalah lelaki yang mengutuki hidupnya sendiri namanya ini Lihatlah perbuatan weh taikong Hamim penggawa masjid sampai mengacu mengacungkan tombak mimbar pada khalayak yang silang sengketa tahu apa kalian selalu hukum agama jangan memandikan mayatnya di masjid biar dia hangus di neraka berdaki-daki langit kemudi dan layar itulah samar ingatku tentang weh tapi di sekolah lama molent School di Tanjung Pandan aku pernah melihat fotonya Tak bohong orang bilang bahwa dia bukan sembarang karena Belanda hanya menerima pribumi yang paling cerdas di sekolah calon petinggi teknik kapal keruk timah itu foto kuno itu sudah buram kue seseorang kemudian yang gagah ia bergaya berdiri condong namun menumpukan tumbuhan kekarnya di atas pemukul kasti namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya. Seringainya hambar. Jauh, dan kesakitan titik weh mengawasi lekat siapapun yang mendekati fotonya aku menatapnya, lama, lalu bisikan garam mendesis dari foto itu, engkau, laki-laki Zenit dan Nadir titik-titik titik-titik Mengapa weh kesakitan? Semula ia baik-baik saja, Bahkan tempatnya terhormat di kelas. Sampai penyakit Nista perampok hidupnya. Ia kena bururut. Burut tertutup yang meniup kostum dan laki-lakinya, bengkak seperti balon sampai jalannya pengkor. Jambi dan ramuan. Iya atau sunat leluhurnya pernah melangkahi Quran kualat, tuduh orang kampung tanpa perasaan. Soalnya Pemuda penuh harapan itu tumbang. Dia keluar dari tenis school mengasingkan diri, meninggalkan tunangannya. Menjadi nelayan, tinggal di Perahu. Aku masih kecil dan weh sudah tua ketika kami bertemu. W adalah sahabat masa kecil Ayah Ibuku titik puluhan tahun ia telah hidup di perahu titik perkenalan kami terjadi gara-gara aku disuruh Ayahku mengantar beras dan kunur untuk anaknya. Semula Aku ragu mendekati perahunya. Laki-laki itu keluar dari lubang, tubuhnya aneh. Ia tampak mirip bertemu manusia. Lemparkan! Adiknya melihat benda-benda di tanganku. Aku terkejut titik enak saja, tidak adil. Ayahku membawa kebaikan untuk dan ia sampai sekali tak punya basa-basi. Dia bisa menakutkan siapa saja bukan aku titik weh meradang, aku bergeming. Keras kepala! Mirip sekali ibumu! Ia mandi berkokok merapatkan perahunya ke Pangkalan. Aku melompat dan berdiri tegak di buritan. Sampai aku pulang Kami tak berkata-kata..
Kembali
© Copyright : SMP Negeri 17 Bandung - 2024