GLS KELAS : VII-J

TAHUN PELAJARAN 2025/2026
NAYLA AQEELA MALELA
Kelas : VII-J

NAYLA AQEELA MALELA
Kelas : VII-J

Senin, 20 Oktober 2025 | Dibaca : 63 kali
Judul Buku: Ngunduh jiwo
Genre:
Penulis: Restu wiraatmadja
Penerbit: Dinda djohani
Tahun: 2014
Halaman: 14
GLS
Resume:
udah 7 orang wanita meninggal dunia dalam kurun waktu bulan. Mereka yang meninggal adalah perempuan yang baru saja menikah. Kejanggalan ini membuat Pak Sumardi dan Bu Sumi, selaku petugas desa yang biasa memandikan jenazah mencari tahu terkait misteri di balik kematian tragis yang terjadi.

Kematian menjelang bulan pengantin.

Sebab, ketika suami istri itu melaksanakan tugasnya, mereka mengalami keganjilan yang mengerikan. Keganjilan yang menjadi noktah akan petunjuk siapa dalang di baliknya dan teror-teror yang menimpa mereka..

Jawa Tengah, 2005
Korban ke-8

Langkah kaki Pak Sumardi berjalan pelan dan tenang ke arah sebuah gubuk yang sudah ramai dengan banyak orang dengan mengenakan pakaian serbahitam, la tampak cuek dengan tangisan bercampur teriakan yang menyayat hati. Suara-suara sendu itu sudah biasa didengar selama menekuni profesinya sebagai lebe yang ditunjuk langsung oleh kepala desa.
la adalah salah satu orang penting di Desa Tejo Kromo yang bekerja membantu pernikahan atau kematian warga desa, terutama membantu memandikan jenazah.
Kali ini, Pak Sumardi mendatangi salah seorang rumah warga untuk memandikan jenazah. Namun, karena jenazahnya perempuan, biasanya Pak Sumardi datang bersama istrinya, Bu Sumi. Para warga menyebut mereka sebagai Keluarga Lebe.
Kedatangan Pak Sumardi dan Bu Sumi disambut hangat oleh keluarga almarhumah Kusumawati yang masih berurai air mata. "Pak Sumardi, terima kasih sudah datang," ucap Bu Heni, ibunda almarhumah.

Pak Sumardi menyalami Bu Heni dan Pak Wikto. Keduanya tampak sangat terpukul. Bagaimana tidak? Belum dua hari mereka berbahagia Kusumawati, tiba-tiba saja anak perempuannya itu meninggal.

"Sudah siap semua?" tanya Pak Sumardi.

dalan melot

"Anu. Pak. Bagaimana kalau kita tunda 1 jam dulu?" pinta

Pak Wikto.

"Ditunda? Mengapa memangnya?"

Pak Wikto melirik gelisah Bu Heni yang juga menunjukkan gelagat yang sama. Pak Wikto kemudian mengajak Pak Sumardi dan Bu Sumi ke belakang rumah untuk mengungkap misteri yang sebenarnya sudah jadi buah bibir di semua warga yang hadir.
"Anak saya meninggal dalam keadaan ndak wajar. Tubuhnya menekuk seperti bayi dalam rahim. Sudah beberapa kali kami rentangkan tubuhnya, tapi tetap ndak bisa diluruskan," ungkap Pak Wikto dengan suara gemetar.
Mendengarnya, baik Bu Sumi dan Pak Sumardi sama-sama mengernyitkan dahi. Baru kali ini, mereka mendengar jenazah dalam keadaan seperti itu. Bagaimana bisa?
"Boleh saya lihat almarhumah, Pak Wikto?" tanya Bu Sumi
Pak Wikto lantas mengangguk dan telunjuknya mengusir butir duka di ekor mata. la pun mengantar Keluarga Lebe itu ke kamar anak kesayangannya sembari memastikan para tetangga tidak curiga dengan apa yang tengah terjadi.
"Bu, astagfirullah..." Pak Sumardi memelotot sambil mem-bekap mulutnya.

"Aku mengerti, Pak..." balas Bu Sumi yang juga memberikan reaksi yang sama ketika melihat jenazah Kusumawati.

Tubuh Kusumawati benar-benar menekuk seperti bayi dalam kandungan. Bagian kepalanya menunduk, tapi matanya melotot dengan mulut menganga dan raut yang penuh kengerian.

Di belakang mereka, Pak Wikto yang resah tampak menunggu petunjuk. "Bagaimana, Pak?"

"Sebaiknya jangan ditunda, kita segerakan," ucap Pak Sumardi setelah mempertimbangkan kondisi. "Saya minta tolong untuk bawa almarhumah ke tempat pemandian. Saya khawatir kalau kita tunda, tubuh Kusumawati ndak bisa diluruskan kembali."

Pak Wikto akhirnya memanggil Bu Heni dan beberapa beberapa anggota keluarga untuk membawa tubuh Kusumawati menuju ke tempat pemandian jenazah.

TIRAI sudah ditutup dengan rapat, Bu Heni dan beberapa sanak saudaranya meletakkan tubuh kaku Kusumawati ke atas meja tempat mandinya. Dengan arahan Bu Sumi, mereka hendak membaringkan tubuh Kusumawati, sementara Pak Sumardi menunggu di balik tirai.

Percikan air sudah memenuhi tong besar yang biasa digunakan untuk memandikan jenazah. Di ruang tamu dan di luar tenda, orang-orang yaang melayat mulai bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi. Mereka tampak penasaran karena
.
Kembali
© Copyright : SMP Negeri 17 Bandung - 2024